Kisah Seorang (Anak) Penjual Putu


Kita kaya? Beberapa mungkin berkata iya karena memang begitulah adanya.
Namun kebanyakan memanglah kaya harta.
Saya? Wah, jangan bercanda ah, saya ‘ndak’ kaya, alhamdulillah juga ‘ndak’ miskin.
Hanya mahasiswa biasa, dengan IP cukup biasa, dan kehidupan yang biasa.
Memang bagi sebagian orang biasa itu buruk, tapi apa iya? Bukankah itu hal yang ‘normal’?
Cukup sekian prolog tidak jelasnya.😀
Judul diatas kurang sesuai sih, cuma untuk menarik pembaca saja.
Baca 5 halaman pertama dan 5 halaman terakhir buku, maka kau dapatkan intinya.
Ini kisah penjual putu. Seorang anak penjual putu. Maksudnya anak yang berjualan putu.
Sebab jika ini menceritakan anak orang yang berjualan putu, maka ini bisa jadi kisah saya sendiri.
Ya, dulu bapak saya memang berjualan putu. Dan sekarang saya kuliah, nyasar di UGM pula. So?
Lagi-lagi bercerita sendiri -.-
Oke. Namanya Joko.
Seperti namanya dia masih joko. ‘Ndak’ tau deh. Haha
Serius.
Dia mengaku berasal dari wilayah Wonogiri. Daerah pegunungan katanya.
Berjualan putu sudah sekitar setahun ini dengan sepeda jengki yang khas dan rombong dibagian boncengan.
Haha, eh iya, kenalannya juga pas saya beli putu. Lumayan, beli lima gratis satu.
Putunya juga enak. Agak berbeda sih dengan yang didaerah Lumajang, ya Cuma di warnanya saja. Yang sini putih yang sana hijau.
Kenapa saya bilang anak? Ya, dia baru lulus SMP tahun lalu sebelum memutuskan berjualan putu.
Putus sekolah. Iya. Bukti sekali lagi program belajar 9/12 tahun dan bantuan pendidikan tidak tersalur dengan baik ke daerah pelosok. Miris juga mendengar dia berkata,
“Ya, namanya juga berjuang mas, yang penting dilakukan dengan sungguh- sungguh pasti ada hasil.”
#aslinya dalam bahasa jawa krama inggil, padahal umurnya tidak jauh beda (gara-gara kumisku mungkin ya😀 ahahah)
Sempat bercerita saat sedikit sembari menunggu putu (bukan nama orang :D) matang. Dan tiba-tiba saya mengatakan bahwa bapak saya dulunya juga pernah jual putu. Dia lalu bercerita dia sudah putus sekolah dan zaman dia sekolah, harus jalan kaki ke sekolah dengan jarak cukup jauh. Salut. Meski hanya hingga SMP. Biasa, biaya menjadi kendala. Sempat pula dia mengatakan bahwa saya sekarang sudah enak dan berkecukupan (mungkin karena dia dengar bapak pernah jual putu), mungkin juga sedikit termotivasi. Apapun itu semoga dia tidak putus asa dan tetap berjuang sesuai dengan ucapannya tadi meski dengan cara berjualan putu untuk saat ini.
Yang menjadi benang merah bukanlah kisah sok mengharukan tadi (apa iya haru? ) tetapi semangat Si Joko.
Malu rasanya pada diri sendiri jika selalu menuntut pada orang tua yang selalu bekerja keras namun disini tidak banyak berusaha. Makan terjamin, kiriman uang lancar dan fasilitas lebih dari cukup tapi laporan Kerja Praktek saja belum mampu diselesaikan.
Semoga bisa belajar lebih banyak. Amin.
Untuk Joko, semoga orang tuamu berbangga hati dengan kerjamu dan semoga kamu sukses.
#maaf jika aliran kata maupun diksinya tidak bagus.

Satu pemikiran pada “Kisah Seorang (Anak) Penjual Putu

Komentarnyaaa dooong :3

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s