#2 Food Selection Criteria (2)


Jumpa lagi untuk membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kita dalam memilih makanan. Ini adalah kelanjutan dari materi hari kemarin. Jika kemarin lebih ke kecenderungan penerimaan rangsang, sekarang yang dibahas adalah faktor-faktornya. Silahkan dicerna dan dikomentari.

1. Sight

Sight. Pengelihatan atau apa yang bisa terlihat. Ya, seorang teman berkata baginya kenampakan adalah 50% dari rasa. Saya setuju tentang hal ini meski mungkin prosentasenya lebih besar lagi (saya tidak suka sesuatu yang memiliki bentuk ‘aneh’). Jadi kenampakan akan sangat menentukan pilihan kita. Kenampakan yang utama diantaranya adalah warna, bentuk, ukuran, satuan saji dan sebagainya (tahu kan kenampakan seperti apa?).

agengasa.org

agengasa.org

Terkadang, dan hal ini sudah diterapkan dibanyak tempat contohnya supermarket, penataan produk akan sangat menentukan pilihan pembeli. Bisa dilihat di rak-rak supermarket tentang hal ini, produk yang berwarna cerah, yang bentuknya bagus, dikelompokkan jadi satu. Dipisahkan berdasarkan beberapa kriteria tadi.

Dalam hal ini, tata cahaya juga mengambil peranan

Pernakah anda membeli buah di supermarket yang pada rak-nya dipasang lampu neon warna putih atau sedikit jingga? Spektrum warna tertentu atau lux tertentu akan mampu menguatkan warna buah. Jadi ketika memilih dan membeli dalam supermarket, kita mengira buahnya segar dan ‘merona’, tapi saat di rumah, eh, kok biasa saja.

2. Odor

Odor atau bau. Wah, kriteria yang satu ini mau tidak mau memang berpengaruh pada selera makan. Entah itu akan mengurangi atau tidak. Bahkan, terkadang bagi saya, meskipun bentuknya aneh, tapi dia punya bau yang ‘khas’ bagi saya, tetap saya konsumsi.

Tadi malam, teman saya (kali ini cewek) membelikan saya nila goreng. Sebabnya simpel, karena saya jadi pengen nila gara-gara dia makan nila didekat saya. Bau nila gorengnya sangat memikat. Tahu tidak darimana asal bau tersebut? Udara. Yak, udara adalah perantara utama bagi bau sebab bau sebenarnya berasal dari senyawa atau zat tertentu dari suatu benda yang menguap. Kita sebut zat ini zat volatil. Volatil karena dia mudah menguap.

kaleidoscope.cultural-china.com

kaleidoscope.cultural-china.com

Odor atau bau ini berhubungan dengan kecenderungan olfactory

Dalam industri makanan dikenal yang namanya essence atau pemberi aroma.Kenapa ada essence? Jawabnya adalah karena beberapa aroma asli yang berasal dari buah tidak dapat dijumpai terus sepanjang tahun disebabkan sifat buah yang musiman. Jadi essence akan menyediakan aroma ini sepanjang tahun. Essence juga hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk mampu memberikan aroma yang sama. Selain itu, aroma dari essence lebih konsisten dibanding buah-buahan itu sendiri. Buah-buahan memiliki wangi yang berbeda satu sama lain tergantung aktivitas biologis dan kandungan kimianya, sedangkan essence karena berupa buatan dapat memberikan wangi yang lebih konsisten.

3. Taste

Gustatory atau kemampuan merasakan seseorang akan menentukan selera dan rasa. Selera dan rasa adalah dua hal yang berbeda namun memiliki satu kesatuan. Sebuah rasa akan menimbulkan sensasi tersendiri. Saya cenderung memilih rasa gurih dan asih dibandingkan manis untuk makanan sehari-hari (semisal masakan ibu atau beli di warung-warung). Ini yang namanya selera. Pilihan.

Rasa itu ada lima. Manis (sweet), asam (sour), asin (salty), pahit (bitter), dan terakhir yang paling bungsu menjadi rasa dasar adalah gurih (umami/savory). Kelima rasa ini memiliki tempat tersendiri pada lidah. Manis didepan, pahit disamping, asam samping depan, dan asin samping belakang sedangkan gurih ditemukan hampir merata pada semua bagian lidah.

Rasa kelima adalah savory bagi orang barat dan umami bagi orang asia (orang Indonesia lebih kenal dengan rasa gurih). Dua rasa ini didefinisikan sebagai rasa gurih meskipun sebenarnya berbeda. Savory di Barat berasalah terutama dari lemak/kaldu yang dihasilkan dari daging sehingga sering dideskripsikan sebagai rasa yang meaty, sedangkan umami terutama berasal dari campuran kaldu dan rempah-rempah khas Asia. Kaldu sering digunakan untuk mendapatkan rasa gurih ini karena dapat memunculkan kelezatan dan kedalaman rasa, rasa yang memenuhi mulut dan bertahan lama, gurih, mouthfeel yang baik, kompleksitas rasa dan versatility.

Coba deh makan bakso, pasti rasanya bertahan hingga lama
Jangan dicoba saat sahur

electronics.howstuffworks.com

electronics.howstuffworks.com

Suatu makanan memiliki citarasa (flavor) tersendiri. Citarasa adalah kombinasi dari rasa, bau dan sensasi yang diberikan oleh suatu makanan pada mulut kita (mouthfeel). Mungkin kadang anda tidak terlalu suka dengan wujud suatu makanan, tapi jika anda makan makanan tersebut, ada sensasi tersendiri yang diberikan. Contohnya pernakah anda makan permen dengan isi menthol didalamnya? Ada sensasi dingin dan menyegarkan (kedengarannya seperti jargon iklan) yang terasa dalam mulut. Ini juga ada sangkut-pautnya dengan pleasant after taste atau secara sederhana sensasi setelah makan.

Contoh saja cabai, mungkin cabai memang terasa pedas (rasa pedas itu tidak ada, pedas muncul karena bintil pengecap pada lidah teriritasi oleh zat capsaicin yang dihasilkan cabai) tetapi cabai mampu memberikan sensasi setelah dimakan (after taste) dan juga mampu memberikan kehangatan pada mulut. Mungkin ini sebabnya orang yang suka makan cabek tidak kapok untuk makan lagi. Merica juga sama. Dia memberikan rasa pedas sekaligus rasa hangat.

4. Touch

Sentuhan tentu saja berhubungan dengan kondisi fisik makanan. Sensasi yang ditimbulkan saat bersentuhan dengan anggota tubuh kita akan berbeda di tiap individu. Indera peraba akan dengan mudah membedakan makanan dengan meraba teksturnya. Lidah juga akan merasakan tekstur makanan sehingga tenggorokan mau dibuka untuk kemudian ditelan (inilah masalah saya, peka terhadap tekstur lembek, hiieks).

marketplace.secondlife.com

marketplace.secondlife.com

Touch sangat berhubungan dengan tekstur

Anda suka makan kerupuk? Tiap orang punya cara yang berbeda dalam memakannya. Ada yang dikrenyes-krenyes langsung, ada pula yang suka direndam dalam kuah lebih dulu. Ini lebih pada selera.

Sentuhan sangat mengandalkan kekonsistensian dalam merasakan. Apakah itu renyah atau tidak, kasar atau halus dan sebagainya. Kita dapat memilih makanan dari merasakannya. Contoh, saat memilih kerupuk, kadang kita mencuilnya sedikit, jika mudah dicuil/remas, tanda kerupuknya masih bagus tapi jika tidak tentu tidak bagus.

5. Sound/Hearing

Pendengaran adalah indera yang menangkap suara untuk kemudian diterjemahkan suara apakah itu. Manusia punya suara-suara yang disukai, apakah itu suara gadis yang memanggilnya, suara anjing yang mengejarnya atau suara makanan yang dikunyah. Tiap makanan menghasilkan bunyi pada frekuensi tertentu. Telinga akan menentukan preferensi terhadap suara-suara tersebut. Contohnya lagi ya suara kerupuk, suara roti, opak dan lainnya.

Suara yang dihasilkan suatu makanan tentu dihasilkan oleh kerenyahannya sedangkan kerenyahan ini disebabkan oleh kandungan air pada bahan. Makin kecil kandungan air, makin kering dan makin nyaring suatu makanan. Inilah yang menjadi sebab kenapa saat menggoreng sesuatu harus tepat waktu, agar kandungan airnya dapat dikontrol. Kriteria suara ini berhubungan sangat erat dengan tekstur makanan.

marketplace.secondlife.com

marketplace.secondlife.com

Suara yang dihasilkan suatu makan entah saat dimakan atau diolah menjadi penanda kondisi makanan

Gambar diatas menunjukkan gorengan yang sudah hampir matang dilihat dari kenampakan warnanya yang keemasan dan juga, suara dari letupan-letupan minyak goreng. Letupan tadi berasal dari air (dari bahan makanan menguap) yang terperangkap dalam minyak. Contoh juga jika anda beli cola, saat cola itu kondisinya masih ‘segar’ baru maka dia menghasilkan bunyi cessss saat dibuka,, tapi jika ternyata sudah lama, tentu bunyinya tidak begitu.

Saat ini, di dunia industri pangan, pertimbangan konsumen untuk membeli produk makanan lebih banyak dipengaruhi oleh efek sosial, kesadaran akan gizi, keinginan/minat sensoris dan kondisi psikologis, serta efek apa yang mampu diberikan makanan tersebut saat dikonsumsi. Entah itu after taste atau mouthfeel yang diberikan si makanan. Konsumen mempunyai keinginan dan ekspektasi yang ‘aneh’ seiring dengan peningkatan kemampuan dan pengetahuan mereka.

Jadi fokus perusahaan/industri adalah HOW TO FULFILL CONSUMERS WILL/EXPECTATIONS

Komentarnyaaa dooong :3

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s