Uji Sensori Produk Biskuit Krim


Tulisan berikut adalah tugas yang dibuat oleh rekan saya, yakni RM Persia Manggala. Uji sensoris layak untuk dilakukan terutama untuk mengetahui prefereni konsumen terhadap atribut yang dimiliki oleh suatu produk, dalam hal ini adalah biskuit krim yang diwakilkan pada produk Oreo, Rodeo dan Goriorio. Kenapa disebut uji sensori? Jawabannya mudah dan tidak njelimet seperti dosen di perkuliahan. Dinamakan seperti itu karena pengujian ini dilakukan berdasarkan apa yang mampu dideteksi oleh indera kita atau terhadap apa-apa yang nampak dan bisa diukur dengan sensor inderawi.

Nah, respon yang diberikan oleh hasil ujia tadi adalah hasil akhir dari pengujian. Karena cenderung bersifat subjektif, maka untuk melakukan uji sensori ada macam-macam panelisnya. Silahkan cari sendiri yaaa🙂. Namu jangan salah, indera manusia adalah alat uji yang belum bisa digantikan oleh alat uji lainnya termasuk mesin atau robot.

A. Pendahuluan

Uji sensoris, atau yang dapat disebut juga uji organoleptik adalah suatu uji yang didasarkan kepada kemampuan pengindraan manusia. Secara harafiah, menurut Septa (2012), uji sensoris merupakan disiplin ilmu yang mempelajari identifikasi, pengukuran, analisis dan interpretasi sifat sensoris atau atribut bahan pangan ayau bahan lain yang diterima sensasinya oleh indra penglihat, pencecap, pembau, peraba dan pendengar. Dalam paper kali ini, saya akan melakukan uji sensoris terhadap 3 produk makanan sejenis, yaitu biskuit coklat dengan krim susu yang berasal dari 3 produsen berbeda dengan merk yang berbeda pula, yaitu Oreo dari Kraft, Rodeo dari Nissin dan Goriorio dari Siantar Top.

DP/Persia

DP/Persia

 Gambar 1. 3 merk produk

B. Uji Sensoris

Atribut yang saya gunakan disini adalah rasa, bau, dan tekstur. Penampakan tidak diikutsertakan karena ketiga produk ini memiliki kenampakan yang hampir sama. Hanya saja khusus merk Oreo tercetak tulisan “Oreo” di keping biskuitnya sehingga atribut penampakan tidak diikutsertakan karena dikhawatirkan akan mempengaruhi preferensi konsumen.

1. Atribut rasa

            Untuk rasa dibagi menjadi 2 yaitu rasa biskuit coklat dan rasa krim susunya. Untuk rasa biscuit coklat, merk Oreo dapat dirasakan mengandung coklat yang paling kuat diikuti oleh Rodeo dan Goriorio. Hal ini dapat dibuktikan dengan rasa Oreo yang sedikit lebih pahit dibandingkan merk lain. Sedangkan untuk krim susunya, rasa susu yang paling dominan dimenangkan oleh merk Rodeo diikuti Oreo dan Goriorio.

2. Atribut bau

            Dari ketiga produk yang diuji, bau yang didapat didominasi oleh bau coklat yang berasal dari kepingan biskuit masing-masing. Oreo memiliki bau biskuit yang lebih dominan dibandingkan bau krim susunya, untuk produk Rodeo bau coklat pada biskuitnya tidak sekuat Oreo. Rodeo baunya lebih soft, bahkan nyaris tidak tercium. Lain halnya dengan Goriorio yang memiliki bau paling harum. Bau krim susunya paling terasa dari ketiga produk yang diuji.

3. Atribut Tekstur

Dalam hal tekstur, tidak ada perbedaan tekstur biskuit antara merk Oreo dan Rodeo, keduanya memiliki tekstur renyah seperti biskuit pada umumnya. Namun pada biskuit merk Goriorio, teksturnya cenderung lebih empuk, sehingga dapat dikatakan seperti cake-biscuit karena teksturnya yang empuk.

DP/Persia

DP/Persia

Gambar 2. Berurutan, Rodeo, Oreo, Goriorio

Apabila dilakukan nilai skala untuk tiap atribut, dapat disajikan dengan menggunakan tabel yang membagi skala penilaian dengan 5 skala yang berbeda. Tingkatan nilai membedakan karakteristik sesuai dengan atribut yang diujikan. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 1. Hasil penilaian atribut biskuit merk Oreo.

DP/Persia

DP/Persia

Tabel 2. Hasil penilaian atribut biskuit merk Rodeo.

DP/Persia

DP/Persia

Tabel 3. Hasil penilaian atribut biskuit merk Goriorio.

DP/Persia

DP/Persia

#Pengujian ini masih sebatas penilaian penulis. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan universal, dapat dilakukan uji sensoris dengan menggunakan panelis-panelis tertentu dengan jumlah tertentu dan atribut yang lebih bervariasi. Hal ini bertujuan untuk menghindari subjektivitas penilaian dari pelaku uji sensoris.

Sumber Referensi

Septa, Mohammad. 2012. Deskripsi uji Sensoris. Dalam http://septa-ayatullah.Com /2009/04/deskripsi-uji-sensoris.html. Diakses pada 03 January 2013 pukul 21:00 WIB

Komentarnyaaa dooong :3

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s