Intrik? Persaingan terselubung? Tusuk-menusuk? Biasa Saja.


Selasa, 2 April dini hari. 03.00 WIB kalau tidak salah. Harusnya pagi ini saya belajar tentang ekonomi. Apa itu pasar, bagaimana kondisinya, apa saja elemen yang terkait, dan bagaimana caranya mengakali pasar supaya profit usaha bisa ditingkatkan. Nyatanya, malah terpikirkan oleh hal-hal kecil.

Ada ujar-ujar, mereka yang terpaku pada hal kecil, biasanya tidak mampu menjadi orang besar. Iyakah? Iya jawab hati saya.

Nah, lantas apa hubungannya? Pikiran saya mengatakan bahwa, fakta dan kenampakan-kenampakan selama ini dilapangan telah mengarah pada adanya intrik yang sedikit banyak berusaha menguasai. Menguasai dalam artian mengelupas sedikit (banyak) apa yang harusnya saya kendalikan.

Orang kan beda-beda wataknya ya? Tapi yang namanya orang, hatinya tidak bisa diukur.

Lantas apa hubungannya dengan persaingan terselubung? Waha, jelas ada noo. Begini, ketika kita (katakanlah saya) terlibat dalam suatu hal, pasti ada orang lain disitu yang juga ikut, ada peluang dia akan membantu secara tulus, ada pula kemungkinan membantu dengan pamrih. Pamrihnya ini yang bahaya men. Jikalau saja pamrihnya itu diungkapkan secara langsung, itu bagus, kalau saya bisa saya berikan, kalau tidak saya suruh ambil sendiri apa sih yang di mau. Bahayanya ni ya, bahayanya, kalau diam-diam. Bisa jadi memang tidak terlihat saat ini akan seperti apa yang dia mau atau jangan-jangan sudah dia ambil, tapi dampak kedepannya akan sangat menetukan. Bahaya di masa depan itu yang jadi pikiran.

Eits, tapi bisa juga dikatakan bukan persaingan jika kedua pihak yang ‘bersaing’ tidak saling tahu bahwa mereka terlibat dalam hal yang sama. dalam kasus ini, memang hanya salah satu pihak yang tau, tapi dalam ‘kasus’ yang dulu, kedua pihak tahu. Ya, biarlah kasus yang kali ini disimpan saja detilnya, toh, bagi saya kans-nya hanya 0%. Tembok untuk kesana terlalu tinggi. Kata teman sih yang tadi malam ngobrol sambil makan, “Usaha keras harus bro.”

Ada kalanya kita tidak dapat membedakan mana kawan, lawan, mana kawan yang merangkap lawan. Ada kalanya kita bertindak atau diam. Dan sayangnya, saya orang yang diam. Kenapa? Sudah biasa.

Pak Kyai pun bilang, “Dik, ati-ati.”

Komentarnyaaa dooong :3

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s